KELAHIRAN NABI MUSA AS
Nabi Musa as dilahirkan pada waktu zaman raja Firaun IV (Ramses III) menguasai negeri Mesir. Pada masa kelahirannya telah dikeluarkan perintah raja untuk membunuh seluruh bayi laki-laki Bani Israil yang baru dilahirkan. Perintah tersebut dipicu oleh mimpi raja yang melihat bahwa api telah tertuju ke Baitul Maqdis sehingga menerangi seluruh Mesir. Para ahli nujum raja meramalkan mimpinya bahwa kerajaan Mesir akan dirobohkan, rajanya akan dibinasakan dan mencampurkannya dengan kekuasaan mereka, dan mengusir dirinya dari negeri mereka dan mengganti agama yang mereka yakini oleh laki-laki dari Bani Israil yang dilahirkan saat itu.
Maka dibunuhlah semua bayi laki-laki yang lahir saat itu, tidak ada satupun yang ditinggal hidup kecuali didatangi para prajuritnya untuk kemudian dibunuh dengan kejamnya. Budak-budak yang melahirkan pun digugurkan. Firaun IV inilah raja yang paling kejam kepada Bani Israil. Firaun menjadikan mereka sebagai budak dan menyiksa mereka. Bagi mereka yang tidak bekerja harus membayar upeti kepada raja.
Pada suatu waktu lahirlah seorang bayi laki-laki yaitu Nabi Musa as, dan Tuhan telah mengilhamkan kepada ibunya agar ia melarungkan anak tersebut dengan tabut ke sungai Nil.

Kemudian Nabi Musa dimasukkan dalam tabut dan dilarungkan ke sungai Nil. Sesaat air mengambangkannya ke atas dan sesaat lagi menurunkannya ke tempat yang landai. Sampai akhirnya tabut itu terdampar di pohon-pohon, di taman kediaman Firaun. Dengan qudrat Allah tabut itu ditemukan oleh isteri Firaun Asiyah. Waktu itu ia sedang mandi di tepi sungai Nil.
Asiyah segera menggendong bayi tersebut ke istananya. Pada saat Firaun melihat bayi tersebut laki-laki ia segera mencabut pedangnya untuk membunuh bayi itu.
"Apa yang akan tuanku lakukan" tanya Asiyah.
"Dia akan kubunuh? Aku khawatir anak inilah yang akan menghancurkan kerajaanku" jawabnya.
"Tuanku ia adalah bayi yang tak berdaya, mengapa engkau takut kepadanya? Apalagi yang mengasuhnya adalah kita", "Aku akan mengangkatnya sebagai anakku". Asiyah terus merayunya untuk tidak membunuh anak tersebut.
Nabi Musa Hidup di Pengasingan
Lalu keluarlah Nabi Musa dari sana dengan penuh kekhawatiran kalau-kalau ada yang mengetahuinya, ia meninggalkan negeri Mesir mengikuti langkah kakinya, ia belum tahu daerah yang dapat dijadikan perlindungan, maka larilah ia menuruti langkah kakinya saja tak tentu arahnya. Diwaktu beliau berlari meninggalkan Mesir, sering menoleh ke belakang, karena merasa ada orang yang membuntutinya. Maka larilah Musa dari kota itu (dari negeri Mesir) dengan ketakutan, serta memperhatikan orang yang akan menangkapnya lalu ia berkata: "Ya Tuhanku! Lepaskanlah aku dari siksaan kaum yang aniaya"Dan pada sore harinya beliau berhenti di bawah pohon kayu di daerah Madyan. Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan, ia berdoa: "Mudah-mudahan Tuhanku menunjuki aku kepada jalan yang benar".
Sewaktu nabi Musa berhenti di bawah pohon kayu, beliau melihat serombongan orang akan meminumkan ternak kambingnya, karena disana terdapat mata air. Untuk mendapatkan air mereka saling berebut-rebutan, dan di antara mereka terdapatlah dua anak gadis yang sedang menunggu sampai selesainya orang laki-laki yang berjejal itu.
Nabi Musa menolong dua gadis bersaudara itu untuk meminumkan kambingnya, dan setelah selesai beliaupun duduk di tempat semula, Lalu kembali ia berdoa: "Ya Tuhanku! Sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". Kebaikan yang dimaksudkan Nabi Musa diriwayatkan sebagaian ahli tafsir sebagai "barang sedikit makanan".
Kemudian salah seorang dari kedua perempuan itu datang kepada Musa, berjalan perlahan-lahan dengan perasaan malu, ia berkata: "Bapakku mengundang tuan karena ia hendak membalas kebaikan tuan, meminumkan kambing kami". Tatkala Musa tiba dihadapan ayah anak gadis itu (Nabi Syuaib), lalu Musa menceritakan kisahnya dari awal sampai akhir ia berjumpa Nabi Syuaib itu. Maka sahut Nabi Syuaib, "Janganlah engkau takut, engkau telah selamat dari kaum yang dzalim itu".
Selesai pembicaraan Nabi Musa dengan ayah gadis itu, berkatalah salah seorang anaknya "Wahai ayahku! ambillah Musa untuk bekerja bersama kita (orang upahan) karena yang sebaik-baik orang upahan ialah yang kuat lagi dapat dipercaya seperti dia".
Nabi Musa Menikah
Akhirnya Nabi Musa bekerja kepada Nabi Syuaib, ayah gadis itu, sebagai pekerja yang setiap harinya mengembalakan kambing Nabi Syuaib. Dalam masa mengembala, dipanggillah Nabi Musa oleh Nabi Syuaib. Ia berkata: "Sesungguhnya aku hendak menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua puteriku ini atas dasar bahwa engkau jadi buruhku selama delapan tahun, tetapi jika engkau sempurnakan sepuluh tahun, maka (itu suatu kebaikan) dari kemauanmu sendiri, dan aku tidak mau memberatkanmu. Engkau akan buktikan aku, Insya Allah termasuk orang-orang yang baik".Lalu jadilah Nabi Musa kawin dengan salah seorang puteri Nabi Syuaib dan perjanjian yang telah ditentukan itu telah dijalankan dan dilaksanakan oleh Nabi Musa as sendiri.
Maka tatkala Nabi Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan, atas izin mertuanya Nabi Musa berangkat dengan isterinya ke Mesir, melalui jalan-jalan kecil, karena takut kalau ditangkap oleh mata-mata Firaun.
Dalam perjalannya Nabi Musa as melihat api dari jauh dan ia bermaksud akan mengambil api itu untuk pedoman ia berlajan, tetapi setelah sampai di tempat itu, bukan main herannya melihat api itu, karena api tersebut melekat di sebuah pohon, tetapi pohon itu tidak terbakar.

Musa mendekati apa itu dan setelah ia sampai terdengarlah olehnya suara yang tak dapat diserupakan dengan apapun dari sebelah kanan pohon Zaitun. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil:
"Hai Musa! Aku ini Allah, Tuhanmu! Maka tanggalkan terompahmu! engkau berada di lembah suci Thuwa! Dan Aku telah memilih engkau (jadi rasulku). Karena itu dengarlah baik-baik apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Aku Allah tiada Tuhan (yang haq) melainkan aku. Karena itu sembahlah Aku! Dan kerjakan sholat, agar engkau mengingatKu. Sesungguhnya hari Kiamat pasti terjadi, Aku sembunyikan (tanda-tanda)nya. Agar tiap-tiap diri kelak dinilai amal perbuatannya. Maka jangan sekali-kali kamu ragu-ragu tentang ini. Jangan kamu dipalingkan oleh orang-orang yang tidak beriman kepadanya, yang akan mencelakakan engkau kelak". (QS. Thaaha 20:11-16)Kemudian Musa membuka sepatunya hatinya berdebar-debar, tibatiba ia mendengar suara kembali: "Apakah itu yang ditangan kananmu, hai Musa?"
Musa berkata: "Ini adalah tongkatku, aku telah bertelekan kepadanya, dan aku pukul daun dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya".
Allah berfirman: "Lemparkanlah tongkat itu, hai Musa!". Lalu tongkatnya dilemparkan, tiba-tiba tongkat itu berubah menjadi ular besar, yang merayap dengan cepat, memburu ke arah Musa. Musa lari ketakutan.
Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Peganglah tongkat itu kembali. Jangan takut hai Musa, sesungguhnya seorang yang telah diutus menjadi Rasul tidak perlu takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula menjadi tongkat.
Musa memegang ular itu, kemudian kembali menjadi tongkat. Selanjutnya Allah berfirman kepada Musa: "Kepitlah tanganmu ke ketiakmu! Niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain pula". Lalu Musa mengapitkan tangannya, tampak kemudian tangannya bercahaya putih kemilau. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya "Pergilah kepada Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas"
Musa kemudian berdoa: "Ya Tuhanku! Lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku! Harun saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat kami". Pergilah Nabi Musa ke Mesir, dengan membawa mukjizat tongkat bisa menjadi ular dan tangan menjadi putih kemilau.
Nabi Musa Menentang Firaun
Firaun mempunyai kekuasaan yang besar sekali di Mesir, dan karena demikian besarnya kekuasaan, sehingga akhirnya Firaun makin lama makin sombong, bahkan menganggap dirinya sebagai Tuhan.Kemudian Allah memanggil Nabi Musa untuk mendatangi Firaun dan kaumnya, memberi pelajaran kepada mereka, agar mereka menyembah Tuhan Allah dan meninggalkan segala maksiat dan kejahatan dan tunduk kepada perintah-perintah Allah. Dan meyakinkan mereka bahwa Allah selalu bersama mereka berdua, tidak perlu takut menghadapi apapun.
Setelah Musa berada di mesir, ia menyampaikan perintah Allah bersama Harun, saudaranya ddengan perkataan yang lemah lembut dan menyampaikan kebenaran yang nyata kepada Firaun.
Nabi Musa berkata: "Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk...Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu ditimpakan atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling".
Nabi Musa kemudian menunjukkan mukjizat yang diberikan Allah kepadanya dengan memasukkan tangannya ke ketiaknya, maka tampaklah cahaya putih berkilau sempurna.
Terjadilah dialog antara Firaun dan Nabi Musa serta Harun tentang masalah-masalah keTuhanan. Demi mendengar apa yang disampaikan mereka berdua, bukan main marahnya Firaun kepada Musa. Firaun berkata bahwa Musa adalah tukang sihir dan jika sihir itu dibanggakannya maka ia pun mempunyai tukang-tukang sihir pula. Dan bahkan ia menyuruh Haman untuk membuat istana yang tinggi agar ia dapat menemui Tuhan Musa. Ia ingin menyatakan kepada kaumnya bahwa Musa hanya berbohong.
Lalu Firaun mengumpulkan tukang-tukang sihirnya untuk bertanding melawan Musa di suatu arena. Arena telah ditentukan berada pada daerah pertengahan antara kerajaan Firaun dan Madyan. Sedangkan waktunya ditentukan di hari raya pada pagi hari saat matahari naik sepenggalah.
Sebelum pertandingan itu dimulai Firaun telah membuat tipu daya bagi keduanya. Dan menghasut bahwa Musa dan Harun akan mengusir mereka dari Mesir. Ia membuat opini bahwa pertandingan tersebut merupakan pertaruhan dua bangsa yang harus dimenangkan oleh bangsa Mesir. Apabila mereka kalah mamka mereka akan dihinakan oleh Musa. Bermunculanlah jago-jago sihir dari seluruh penjuru dikumpulkan untuk menghadapi Nabi Musa. Dan mereka telah menyiapkan diri untuk mengalahkannya.
Tatkala saatnya tiba, jago-jago sihir Firaun melemparkan tali, tongkat maka berubahlah tali dan tongkat itu menjadi ular yang menjalar. Lalu Musa merasa takut, karena telah dikelilingi oleh ular-ular yang berbisa. Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa:
Lemparkanlah tongkat yang di tangan kanamu, niscaya ia akan (berubah menjadi ular besar yang) menelan segala perbuatan mereka itu, sesungguhnya kerja mereka itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan sekali-kali tidaklah akan menang tukang sihir itu walau bagaimanapun juga" (QS Thaaha 20:69).Tongkat itu kemudian berubah menjadi ular besar, ditelannya semua ular-ular yang ada. Bukan main terkejutnya jago-jago sihir itu. baru kali itu mereka melihat kejadian yang luar biasa semacam itu, sehingga kemudian semua ahli sihir itu tunduk sujud kepada Musa.
Kemudian segala tukang sihir itu bersujud tunduk kepada Musa seraya berkata: "Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa" (QS. Thaaha 20:70)Karena melihat tukang sihirnya telah beriman keapda nabi Musa as, amat gusarlah Firaun dan dihukumlah mereka yang beriman kepadanya, tangan dan kaki mereka dipotong berlawanan, kaki kiri dipotong dan tangan kanan dipotongnya. Kemudian mereka disalib pada pangkal pohon kurma. Demikianlah ujian bagi mereka yang beriman dan menentang Firaun.
Demikian pula ketika Firaun mengetahui bahwa isterinya Asiyah telah beriman kepada Allah, maka Firaun bertambah-tambah marahnya, sehingga isterinya disiksanya sampai mati, demikian juga orang-orang yang beriman disiksa dengan siksaan yang amat berat.
Nabi Musa Membelah Lautan
Akhirnya nabi Musa bersama-sama orang yang beriman keluar dari Mesir, setelah mereka tidak berdaya lagi di negeri Mesir, maka Firaun mengejar mereka sampai ke pantai Laut Merah. Kemudian Allah mewahyukan kepada nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut sehingga lautpun menjadi jalan besar dan membelah dua untuk dilalui Musa dengan pengikut-pengikutnya.
Firaun mengejar kaum Musa ke tengah laut itu. Dan sewaktu Firaun dengan balatentaranya mengejar dari belakang sampai dipertengahan laut, air lautpun bersambung kembali menjadi satu, kemudian mereka mati tenggelam semuanya.
Firaun dan balatentaranya mengejar mereka (Nabi Musa dan orang-orang yang beriman sampai ke tengah laut), lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka semuanya" (QS. Thaaha 20:78)Tubuh Firaun ditemukan telah mati di pinggir pantai oleh orang-orang Mesir. Lalu tubuhnya dimummi sehingga sampai saat ini orang dapat melihatnya di musium Mesir.
Walaupun Firaun telah mati, namun rakyatnya yang telah menerima ajran Firaun bertahun-tahun masih banyak, dan jiwanya sangat sulit untuk diperbaiki dan diajak menjalankan ajaran yang dibawa oleh Musa as.
Karena itu Musa memohon kepada Allah supaya Harun dijadikan pembantunya dalam menjalankan kerasulannya. Kemudian doa nabi Musa dikabulkan Tuhan, ia berkata: "Wahai Tuhanku! Aku telah membunuh seorang dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku, Harun, ia lebih fasih lidahnya daripadaku. Maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan perkataanku. Sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakan aku". Allah berfirman: "Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepada kalian kekuasaan yang besar. Maka mereka tidak akan bisa mencapai kalian berdua. Lantaran ayat-ayat Kami, kamu berdua dan orang-orang yang mengikuti kamulah yang akan menang".
Setelah kematian Firaun, tidak berarti dakwah Nabi Musa telah selesai masih banyak yang harus dikerjakannya untuk membawa ummatnya kepada jalan yang benar. Dan beliau sendiri selalu memohon petunjuk kepada Allah untuk membimbing umatnya.Begitulah riwayat hidup Nabi Musa yang mengajak umatnya ke jalan yang benar. Meskipun permintaan mereka telah banyak dikabulkan Allah namun bangsa Israel yang keras kepala selalu menentangnya. Dan hancurlah musuh-musuhnya, hancurlah Firaun, Haman, Qorun, dan kaum Kanaan. Nabi Musa meninggal dunia dalam usia 120 tahun di padang Tieh.
Nabi Musa dan kaumnya patut dijadikan ibarat agar kaum muslimin dapat mengambil hikmah yang besar. Bahkan Allah begitu banyak menempatkan cerita Bani Israil dan nabi-nabinya dalam al-Quran. Ini menjadi hikmah bagi kita agar meneladani perjuangan para nabi dan rasul dan menjaga diri dari adzab yang telah menimpa mereka.